Select Page
Suasana Penulisan Al Qur’an di Lawang Malang

Rekor menulis Al Quran dengan metode follow the line yang pecah di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Sebelumnya rekor itu tercipta di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dengan jumlah peserta sebanyak 3.319 peserta pada 11 Februari 2012. Sedangkan di Lawang Malang, rekor pesertanya mencapai 3.712 pelajar se Kecamatan Lawang,

Akhirnya MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) mencatatkan pemecahan rekor itu ke nomor 5.395 yang diberikan kepada YLPI Ar Roihan Lawang dan Camat Lawang, Bambang Istiawan, Minggu (22/4/2012).

Pemecahan rekor MURI itu dibacakan oleh Sri Widayati di panggung dan selanjutnya menyerahkan piagam MURI yang ditandatangani oleh Jaya Suprana kepada Direktur YLPI Ar Roihan, Laili Qomariyah. Camat Lawang juga mendapatkannya karena termasuk ikut menyelengggarakannya.

Penyerahan itu disaksikan oleh staf ahli Bupati Malang, Eko Suwanto yang membuka acara itu. “Paling ribet memang mempersiapkan jumlah pesertanya. H-3 kita baru tahu sekolah-sekolah yang ingin berpartisipasi,” jelas Toha Luqoni, Humas YLPI Al Roihan Lawang usai acara.

Akhirnya didapatlah jumlah peserta itu. Sebanyak 48 lembaga setingkat SD/MI di Lawang ikut berpartisipasi. Sedang tingkat SMPT/MTs ada 17 lembaga. Sedang setingkat SMA/SMK/MA ada sembilan lembaga. Sedang dari Akper/Akbid ada dua lembaga. Masih juga kemudian bergabung tujuh pondok pesantren dan 16 madrasah diniyah (madin) .

Sehingga total ada 87 lembaga pendidikan yang terlibat. Metode follow in the line adalah semacam metode menebali tulisan. Setiap peserta diberi waktu 20 menit untuk menebali selembar tulisan Al Quran yang telah dibagikan kepada peserta yang mengikuti pemecahan rekor MURI itu.

Para siswa sendiri tampak asyik menebali tulisan Al Quran itu. Jalan Mongisidi Lawang dijadikan tempat untuk peserta berekspresi. Mereka duduk di atas karpet yang dibentangkan di sepanjang jalan itu. Rata-rata membawa meja kecil. Asyik sekali mereka menebali tulisan itu.

Orangtua mereka juga nampak mendukung setidaknya itu bisa dilihat dari antusiasme mereka mengantar anak-anak mereka mengikuti acara itu. Usai menyelesaikan penebalan tulisan itu, mereka pun mendapatkan sertifikat telah mengikuti kegiatan itu.

Uniknya, para undangan umum saat acara juga diberi lembaran menebali Al Quran meski tidak termasuk peserta yang dicatatkan ke MURI. “Saya tadi juga ikut menebali sambil menunggu acara,” ungkap Eko Suwanto, Staf Ahli Bupati Malang.

Farzain,pemegang hak intelektual atas metode follow in the line dari Laboratorium Pendidikan Tarbiyatul Alamin Mojokerto menyatakan sudah ada empat rekor terpecahkan dari metode ini. Pada 2005, di Mojokerto, anak berusia 12 tahun bernama Zahrotin Nikmah berhasil menyelesaikan selama 2,5 bulan untuk 30 juz.

Kemudian di Tangerang pada 2010 sebagai penulisan tercepat MURI 30 juz selama 10 menit yang dilakukan oleh 604 anak yatim . Kemudian di GOR Bung Karno Jakarta pada 2011 dipecahkan oleh 1.208 orang dan 2012 dipecahkan lagi di Kabupaten Kuningan dengan jumlah peserta 3.319 orang. Menurut Farzain, metode ini sebenarnya hanya menebali tulisan. Tapi si penulis juga bisa sambil belajar.

“Biasanya orang tidak mau menulis Al Quran karena takut tulisannya salah atau menulis jelek,” ujarnya. Dengan metode ini, tulisan hanya ditulis dengan ketebalan 10 persen. Selanjutnya, 90 persen dilanjutkan oleh anak itu sendiri. “Coba kalau setiap hari, anak bisa menulis Al Quran satu lembar bolak-balik, maka dalam setahun, anak bisa khatam Al Qurannya,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Toha Luqoni, kegiatan pemecahan rekor MURI untuk kategori pelajar tak hanya sekedar untuk kegiatan tasyakuran lembaganya, tapi juga bisa untuk syiar, yaitu agar anak-anak juga makin akrab dengan Al Quran. Apalagi di lembaganya juga mengajarkan hafalan Al Quran, penulisan juga ada pengartian Al Quran. “Saya harap metode seperti ini juga bisa berkembang di sekolah-sekolah lain,” pungkasnya.

Sumber Berita